Kisah Kembaran Putra Saddam Hussein

Posted by agus ariefandy on Tuesday, 19 July 2011




Seorang mantan pejabat militer Irak, Latif Yahia, yang berdinas sejak 1980 silam menceritakan riwayatnya yang bertugas sebagai kembaran putra mantan Presiden Irak Saddam Hussein.

"Saya ingin kau menjadi Fiday saya," ujar putra pertama Saddam Hussein, Uday Hussein, pada Latif, seperti dikutip News Week, Senin (18/7/2011).

Dalam bahasa Irak, fiday, berarti kembaran atau tameng bagi Uday.

Saat ditanya demikian, Latif tidak paham maksud dari perkataan Uday. Dirinya langsung bertanya,"Maksud Anda, saya menjadi pengawal Anda?" Uday pun menyatakan tidak. Kemudian, Uday langsung menjelaskan tentang fiday ke Latif.

Intelijen Irak menyatakan, ada kemiripan antara Uday dan Latif dari sisi postur tubuh. Oleh karena itulah Latif diminta menjadi kembaran Uday untuk melindungi nyawa Uday.

Latif pun menolak. Uday hanya mengatakan, "Kau dapat kembali ke pasukan, tak masalah."

Nyatanya, perkataan Uday semua bohong. Latif justru diringkus oleh pengawal istana dan dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Mereka memenjarakan Latif selama beberapa minggu sebelum akhirnya Uday meminta Latif untuk menemuinya lagi.

"Mereka mencoba untuk menyiksa saya secara psikologis. Mereka mengancam akan memperkosa adik saya yang masih kecil, saya pun akhirnya memutuskan untuk menjadi kembaran Uday asalkan mereka meninggalkan keluarga saya," ujar Latif.

Saat dirinya bertugas sebagai kembaran Uday Hussein, Latif sering menyaksikan penyiksaan, pembunuhan dan pemerkosaan. Dirinya bahkan sempat diperintahkan Uday untuk menembak seseorang.

Saat diperintahkan untuk membunuh, Latif mengambil pisau dan menggores pergelangan tangannya sendiri di depan Uday. Dirinya langsung dilarikan ke rumah sakit dan Uday tidak pernah memerintahkannya lagi untuk menembak.

Latif lari dari Irak di awal dekade 1990 dan menjalani lima tahun perawatan psikologis. Dirinya tertekan dan banyak mengkonsumsi valium agar tenang.

Pada 2003 silam, Latif tinggal di Manchester, Inggris, bekerja di sebuah kantor berita. Ketika dirinya melihat Uday tewas, dia langsung melemparkan gelas itu ke televisi dan marah.

Latif ingin Uday disidang, tidak mati dibunuh. "Saya ingin keadilan, tapi kenapa ini tidak pernah terjadi?" tandas Latif.

Pasukan AS di Irak pada 22 Juli 2003 silam mengalami bentrokan dengan putra Saddam, Uday dan Qusay Hussein serta Mustapha, cucu Saddam yang baru berusia 14 tahun di tempat persembunyiannya yang berada di Kota Mosul.

Uday dan Qusay Hussein akhirnya tewas terbunuh dalam baku tembak dengan pasukan AS. Setelah baku tembak usai, pasukan AS masuk ke dalam rumah persembunyian putra Saddam dan menggeledahnya.

sumber : http://international.okezone.com/read/2011/07/18/412/480993/kisah-kembaran-putra-saddam-hussein


Follow Jiwaku On

Masukkan Email Anda dan Dapatkan Update Berita Jiwaku :

Baca Artikel Lainnya