Kunci Sukses "DISIPLIN"

Posted by agus ariefandy on Monday, 20 May 2013


"Betapa pun berbakatnya seorang pemimpin, ia tidak akan mencapai potensi maksimalnya jika tidak disiplin" John C. Maxwell

Dear Sobat,

Jalan menuju puncak tidaklah mudah. Tidak banyak orang yang berhasil mencapai posisi terbaik dalam sebuah pekerjaan. Bahkan yang  dianggap terbaik malah jauh lebih sedikit. Tak seorang pun bisa meraih prestasi dan mempertahankannya tanpa disiplin. Disiplin menempatkan seorang ke tingkat tertinggi dan membuat prestasinya bertahan lama.


Untuk mengembangkan gaya hidup disiplin, salah satu caranya adalah hilangkan kecenderungan membuat alasan. Jika Anda selalu punya banyak alasan mengapa Anda tidak bisa disiplin, sadarilah bahwa itu hanyalah suatu pembenaran diri. Jika sekarang Anda kurang berdisiplin, mungkin selama ini Anda terbiasa menikmati makanan pencuci mulut sebelum memakan nasinya, menikmati imbalan sebelum pekerjaannya selesai.

Sobat, fokuslah pada hasil akhir.
Setiap kali Anda berkonsentrasi pada kesulitan pekerjaan, bukan pada hasil, Anda akan cenderung putus asa. Jika berkutat pada hal itu terlalu lama, Anda akan menumbuhkan sifat mengasihani diri sendiri, bukan kebiasaan disiplin. Pikirkan keuntungan dari melakukan pekerjaan itu, dan kerjakan saja.

Jika Anda tahu Anda berbakat, dan Anda telah berusaha keras, namun hanya memperoleh sedikit hasil nyata, Anda mungkin kurang disiplin. Perhatikan jadwal Anda minggu lalu, adakah yang meleset dari target-target Anda? Jika Anda menunda-nunda dan berniat melakukannya nanti, Anda mungkin perlu membenahi disiplin Anda.
More aboutKunci Sukses "DISIPLIN"

Kisah Anak yang Hanya Punya Otak Setengah

Posted by agus ariefandy

Philip Ohnesorge (32) hanya memiliki setengah otak, yaitu otak bagian kanan. Walaupun begitu, ia tidak menyerah dan tetap bertahan hidup. Begitu juga dengan ibunya, Eva Ohnesorge (64). Keduanya tetap bertahan dan saling menguatkan satu sama lain. Saat Philip tumbuh dewasa, ia tidak mampu berbicara dan sering kejang. Setelah berkonsultasi dengan dokter, kondisinya dianggap tidak dapat disembuhkan dan hanya akan semakin bertambah buruk.

Meskipun dokter berkata demikian, Eva menolak untuk menyerah. Pada tahun 1989, ia menemukan seorang ahli bedah yang bersedia untuk mengambil risiko. Akhirnya, sisi kiri otak Philip yang saat itu berusia 9 tahun, dilakukan operasi pengangkatan. Operasi itu berjalan lancar. Philip yang sebelumnya tidak pernah mengucapkan kata, saat pasca operasi mulai berbicara dalam kalimat. 

Sekarang Eva menghadapi permasalahan baru untuk kelangsungan hidup anaknya. Philip menderita penyakit langka yang disebut sindrom Sturge-Weber, berupa tanda lahir yang menutupi satu sisi kepala dan lebih dari satu mata. Tanda lahir ini cepat menyebar dan Eva khawatir akan mempengaruhi penglihatan anaknya.

Untuk mengatasinya, Philip memerlukan perawatan laser khusus untuk mengendalikan pertumbuhan tanda lahir ini. Namun The National Health Service (NHS) menolak untuk membayar biaya pengobatan.

"Mereka sudah membiayai perawatan Philip sebelumnya dan kini mereka menolak," ungkap Eva, seperti dilansir dari Telegraph, Senin (20/5/2013). 

"Saya mengirim mereka foto-foto, semua bukti, dan laporan tentang betapa pentingnya perawatan laser ini untuk Philip. Namun mereka mengabaikannya. Saya khawatir Philip menjadi buta," tutur Eva.

Konsultan mata NHS menyimpulkan bahwa pertumbuhan tanda lahir ini bisa mengganggu penglihatan mata kiri. Walaupun begitu, tim konsultan mengatakan ia tidak punya cukup pengalaman dengan sindrom Sturge-Weber. Ia juga tidak bisa mengukur kerusakan lebih lanjut yang mungkin bisa terjadi. 

Keputusan untuk tidak mendanai pengobatan tersebut berkaitan dengan perubahan kebijakan yang perawatan laser berlabel sebagai prosedur prioritas rendah, yang berarti dana di NHS memang tidak tersedia.

Sturge-Weber menyebabkan gangguan pada pembuluh darah otak dan salah satu dampaknya adalah epilepsi parah. Dokter memberi Philip obat untuk mengontrol epilepsinya, namun Eva diberitahu anaknya telah menderita kerusakan otak sebagai efek obat ini. 

Dengan kondisi mereka saat ini, Eva tetap tidak menyerah. Kini ia dan Philip tinggal di akomodasi khusus di Eastbourne dan beradaptasi dengan ketidakmampuan belajar dan fisik. Lengan kanannya, di sisi yang berlawanan dengan bagian otaknya yang rusak, menderita kelumpuhan dan pincang. sumber :detikHealth.
More aboutKisah Anak yang Hanya Punya Otak Setengah