Kisah Tentang Bung Karno

Diposkan oleh agus ariefandy on Rabu, 17 Agustus 2011


Banyak orang yang tak tanggung-tanggung berkorban untuk orang lain. Orang seperti ini satu diantaranya bernama Soekarno. Dia bukan cuma jadi ”korban” untuk negaranya. Dia tumbal untuk Indonesia.


PAGI hari di sebuah tanah lapang, antara Istana Merdeka dan Istana Negara. Hari itu sekitar pukul 8 Senin pagi, bertepatan dengan Idul Adha 1381 Hijriyah atau tanggal 14 Mei 1962. Banyak orang berkumpul di tempat tersebut, untuk melakukan ritual keagamaan setahun sekali, termasuk Presiden Soekarno, yang kamar tidurnya tidak begitu jauh dari lokasi ibadah itu.

Soekarno biasa datang menjalani ritual tersebut, seperti yang ia lakukan tahun-tahun sebelumnnya. Masa itu kota Jakarta belum memiliki sebuah mesjid yang besar untuk ukuran Soekarno yang megalomania dan gigantic. Jadi kegiatan seperti ini sering diadakan di udara terbuka.

Ketika imam KH Idham Chalid (kelak menjadi Ketua MPR/DPR RI 1973-1977) memulai acara, hanya beberapa menit setelah itu, terdengar teriakan di tengah keheningan alunan ayat-ayat suci. “Allahu Akbar!”, teriak seorang pria hanya enam baris di belakang Soekarno. Dia berusaha menerobos berlari di sela-sela jamaah yang sedang serius berdoa, menuju ke depan, sambil melepaskan tembakan yang berdesingan ditelinga.

Dor! Dor! Dor! Terdengar tiga tembakan yang jaraknya sekitar 8 meter dari Soekarno yang sedang ruku (gerakan membungkuk). Orang berlari panik. Dengan sigap para pengawal yang menjadi perisai hidup melindungi Soekarno. Tak ada yang tewas, hanya beberapa orang menderita luka serius, termasuk Pak Idham Chalid dan Pak Zainul Arifin (ketua parlemen) yang berdiri di sisi kiri Soekarno.


Di dunia ini cuma Soekarno, seorang pemimpin sebuah negara yang banyak sering lolos dari percobaan pembunuhan. Dan tak mati-mati! “Acara bapak pagi ini memimpin sidang kabinet”, kata Soekarno kepada pengawalnya, hanya beberapa menit lolos dari percobaan pembunuhan di hari Idul Adha itu. Lebaran haji tetap ngantor? Lha iya, saat itu Soekarno puyeng menerima kenyataan, prajurit kesayangannya Jos Soedarso, tewas dihajar Belanda 4 bulan silam sebelumnya, sewaktu ingin merebut Irian dari Belanda. “Soekarno at War!” Tetapi dia seolah acuh dan tenang menghadapi peristiwa yang ingin melenyapkan nyawanya.

Kalau nyawa Soekarno itu sebuah produk, mungkin nyawanya berlabel “Made In Germany”. Tangguh, kuat dan beauty. Berapa kali dia coba dilenyapkan, tapi kokoh tahan banting, sehingga menimbul rumor “Soekarno punya ilmu kebal”.

Pernah waktu lagi sidang di istana hari 9 Maret 1962, Soekarno dibrondong oleh pesawat MiG 17 oleh Letda II Daniel Maukar. Lolos! Saat konvoi dari bandara Mandai (sekarang Hasanuddin) ke Makassar, di granat mobilnya, eh, malah nantang keluar mobil. Selamat! Di tes lagi, dilempar granat mobilnya di Jalan Cendrawasih Makassar, malah cuek, tetep pidato setelah itu. Mau dihalang gerombolan pemberontak keagaamaan di Jawa Barat, saat bareng Presiden Uni Soviet, tetap aja selamat. Tapi yang paling parah adalah waktu Soekarno datang ke bazaar sekolah anaknya di Cikini, sebuah daerah di pusat Jakarta. Kali ini dia terluka, meski selamat. Kebal? Mungkin wajar saja tuduhan itu terlontar. Orang kok gak mati-mati mau dibunuh? Tuduhan itu ditolak mentah-mentah. Boro-boro kebal. “Kena kawat berduri saja, tangan bapak terluka. Apalagi kena granat? Bisa remuk!”, kata putranya Guntur sambil tertawa menceritakan “Peristiwa Cikini”, saat bapaknya lompati kawat berduri di sebuah lorong sekolah anaknya, mendadak menghindari granat yang dilempar ke arahnya.


Kalau kita mau jujur, sejak remaja sampai akhir nafasnya, tidak sedetik pun hidup Soekarno lepas dari ngurusin rakyatnya. Masa mudanya dilewati dengan rangkaian agitasi anti-kolonial, baik fisik maupun tulisan, yang membuat dia jadi langganan keluar masuk penjara, serta dibuang seperti tikus basah yang menjijikan. Ini bikin dia kehilangan masa mudanya (kalau Michael Jackson kehilangan masa kanaknya, sehingga jadi produk manusia aneh).

Bila mau hidup enak, Soekarno bisa saja manut (ikut) Belanda. Bisa enak kok hidupnya! Gak perlu jadi pegawai PJKA segala, sebuah pekerjaan yang pernah dilakoninya. Yang bikin dadanya terbakar bukan Belanda, tapi penindasan bangsanya, yang kebetulan dilakukan Belanda. Soekarno tidak anti-Belanda, hanya anti penindasan. Sikap yang sama yang dianut John Lennon, orang yang musiknya tak disukainya.

Semasa jadi presiden pun, nasibnya tak pernah enak. Ada saja setiap masa orang yang ingin menghancurkannya, menculiknya, menghinanya, memojokkannya dan tentu saja membunuhnya. Kegetiran ini membuat Soekarno berpesan agar anak-anaknya jadi orang berguna bagi orang banyak, bukan jadi presiden seperti dirinya.

Ya benar, menjelang menjadi presiden dia memang menjadi tahanan penjara Banceuy dan penjara Sukamiskin dan tahanan sosial (dibuang ke Flores dan ke Bengkulu). Ketika tak jadi presiden, Soekarno pun menjadi tahanan lagi. Kali ini yang tahanan bangsanya sendiri, dengan perlakuan yang lebih kejam. Belanda aja memberi gaji bagi tahanan politik yang dibuangnya. 

Tapi bangsanya, boro-boro memberi gaji, kalau bisa Soekarno cepat-cepat dimusnahkan, Saking melekatnya Soekarno dengan Indonesia, pernah muncul polemik lucu tahun 1981. Isu itu adalah Soekarno pernah nulis surat minta maaf kepada Belanda atas agitasinya melawan Belanda di tahun 1930an. Yang kebakaran jenggot bukan keluarga Soekarno, tapi pemerintah perlu turun tangan. Karena ini menyangkut sejarah bangsa. 

Bayangkan urusan pribadi orang soal minta maaf saja, bisa menjadi wilayah sejarah sebuah bangsa! Apa salahnya kalau memang demikian? “Tidak!”, tegas Wakil Presiden Adam Malik yang saat itu menolak adanya bukti minta-minta maaf Soekarno itu. Ini bisa menjadi aib bangsa Indonesia, bukan cuma Soekarno. Yaaah…, cemen (payah) Indonesia, masak pahlawannya pernah minta maaf. Berarti perjuangannya seperti ayam sayur dong! Begitu kira-kira akan ditulis oleh sejarah kalau Soekarno pernah minta maaf.


“Itu mah pamali (‘gak boleh) buat Kusno!”, komenar Ibu Inggit Garnasih tentang suaminya, yang dibilang minta maaf sama Belanda. Kusno adalah panggilan sayang Inggrit untuk Soekarno, suami terkasihnya sampai mati. Inggit tahu betul soal minta maaf itu, karena dia mendampingi Soekarno saat itu. Dan dia juga tahu betul suaminya bukan berjiwa lembek seperti peuyeum Bandung, meskipun Inggit pernah melemparkan tempolong (tempah ludah air sirih) ke Soekarno, ketika tahu suaminya mau menikahi Fatmawati.”Gak mungkin!”, teriak Inggit tentang minta maaf itu.

Tidak mungkin dalam tulisan ini menjelaskan pengorbanan Soekarno untuk Indonesia. Tidak cukup. Cuma hanya menggelitik saja, bahwa ada banyak sosok orang menjadi tumbal, agar negeri ini tumbuh kuat abadi, sehingga saya bisa hidup enak-enakan sambil nulis artikel ini. Bukan hanya Soekarno, Hatta, Sjahrir dan serentetan patriot sejati. Orang itu bisa penjaga pintu kereta api, penjaga mercusuar yang lebih banyak mementingkan orang lain, juga guru-guru dipelosok, bidan dokter di ujung terpencil bekerja tanpa pamrih, musisi seniman yang berjuang dengan lagu dan kuas tanpa memikirkan royalty. “Silent heroes”, kata Presiden Susilo Yudhoyono, menyebut istilah orang-orang berkorban tanpa mau diekspos (pamrih). Pahlawan senyap.

Sampai kini setiap detik urusan pribadi Soekarno telah diambil oleh jalannya waktu, menjadi sejarah bangsa Indonesia. Kesalahan pribadi yang diperbuatnya, menjadi aib bagi Indonesia. Tapi kehebatannya, pasti menjadi kebanggaan Indonesia juga. Ketika Bung Hatta menjenguk Soekarno di hari-hari akhirnya, mata Hatta berkaca melihat penderitaan soul mate-nya itu, yang terkapar tak berdaya dibiarkan menderita. “Orang ini (Soekarno) benar-benar mengabdikan seluruh hidupnya untuk bangsanya”, kata Hatta penuh kesedihan setelah melihat sahabatnya terakhir kali.

Soekarno memang bukan sekedar pahlawan bagi Indonesia (banyak orang yang tetap membenci Soekarno karena alasan-alasan tertentu), tapi tepatnya tumbal. Sesuatu yang dikorban untuk kepentingan orang banyak, ya namanya tumbal. Soekarno masuk klasifikasi itu. Dia selalu berperan sebagai korban dan perisai untuk bangsanya. Sehingga menjadi suratan dia tidak bisa kemana-mana. Hanya untuk Indonesia! Kini curriculum vitae-nya sudah menjadi portofolio bangsa Indonesia. “Jadi presiden itu seperti tahanan”, kata Soekarno kepada putranya, Guntur.

Marilyn Monroe Dan Soekarno
Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Soekarno tak bisa menyembunyikan kesukaannya terhadap wanita. “Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi seseorang perempuan cantik”, katanya .

Setiap kesempatan bertemu dan berkunjung, wajah Soekarno selalu memancarkan tawa senyum (tak jarang mendaratkan ciuman), terutama kepada wanita yang ditemuinya. Getaran yang dipancarkannya selalu terasa, apalagi oleh wanita yang pernah jumpa dengannya. Tak perduli tua atau muda, jelata atau selebritis, cantik atau tidak. Dari Helen Keller sampai Indira Gandhi, mulai bertemu Rima Melati hingga Marilybn Monroe.

“Aku hanya seorang pecinta kecantikan yang luar biasa”, kata Soekarno menangkis cemooh orang ketika dia menemui aktris Gina Lollobrigida waktu berkunjung ke Italia bulan Oktober 1964.

Dua legenda bertemu
Bulan Mei 1956, Presiden Soekarno mengajak putranya, Guntur, melakukan kunjungan kenegaraan hampir selama tiga minggu ke AS. Mulai dari pantai timur hingga pantai barat, ia datangi tempat-tempat bersejarah dan menarik, termasuk ke Hollywood dengan liputan luas berbagai media.

Di pusat industri film dunia itu, Soekarno tak bisa menyembunyikan ambisinya untuk bertemu pujaannya: Marilyn Monroe. Saat itu aktris berambut pirang bernama asli Norma Jean Baker itu sedang berada di puncak karir.

Pertemuan Marylin dan Soekarno bisa terwujud atas jasa Joshua Logan, sutradara film “Bus Stop” yang diperani oleh Marilyn. Waktu itu dia sedang sibuk syuting ketika Soekarno berada dan bertemu sekitar 200 pekerja film di sana.

Malam hari Soekarno di Hollywood, Eric Allen Johnston, Presiden Motion Picture Association of America (MPAA) mengadakan pesta untuk menghormati Soekarno dan rombongannya di the Beverly Hills Hotel, Hollywood. Sebenarnya Marilyn tak dijadualkan datang ke pesta itu apalagi diundang. Tetapi saat syuitng film “Bus Stop” dia diajak Joshua Logan. “Saya ingin kau menemui sahabat saya nanti malam”, bujuk Logan kepada Marilyn. Tanpa ragu Marylin mengiyakan permintaan Logan. Padahal esok harinya dia akan berulang tahun ke 30 dan harus terbang malam itu juga ke New York untuk suatu acara.

Akhirnya Marilyn datang juga ke pesta yang khusus diadakan untuk menghormati Soekarno itu. Dia mengenakan gaun gelap berleher panjang. Seketika kehadirannya membuat atmosfir pesta lebih hidup. Bahkan beberapa aktor ternama sudah hadir terlebih dahulu, termasuk Gregory Peck, George Murphy (kelak menjadi senator) dan Ronald Reagan (25 tahun kemudian jadi presiden AS).

Kehadiran Marilyn benar-benar memberi oksigen dalam pesta itu, serta mencuri perhatian hampir semua orang. Soekarno segera menghampiri saat mengetahui kedatangannya. Mereka bertemu dalam suasana akrab hampir selama 45 menit. Layaknya seperti dua sahabat yang lama yang tak bertemu. Momen itu tak disia-siakan oleh para fotografer Amerika dan Indonesia.

Marilyn dengan basa-basi mengatakan bahwa dia menyesal tak diundang ke pesta itu. Namun Soekarno tak peduli dia diundang atau tidak, asalkan sudah bertemu dengannya. “Tujuan saya datang ke Amerika antara lain untuk menemuinya (Marilyn)”, kata Soekarno, sedikit diplomatis.

Kekaguman Soekarno pada Marilyn bisa dimengerti, karena seringnya Soekarno menonton film-film Hollywood di istana, sehingga dia begitu dekat mengenal selebrities Hollywood, termasuk Marilyn. “Anda seorang yang sangat penting dan sangat terkenal sekali di Indonesia”, puji Soekarno. Sebaliknya, Marilyn kurang begitu mengenal Soekarno sebelumnya, hingga dia menyapanya dengan sebutan “Pangeran Soekarno”! Entah kesan visual apa yang dibayangkan Marilyn saat berjumpa pertama kali dengannya.

Sebelum meninggalkan pesta, Marylin berpose cukup lama dengan Soekarno di depan puluhan kamera. Bahkan aktris yang menjadi penghias sampul perdana majalah khusus pria Playboy setahun sebelumnya itu, sempat membubuhkan tandatangan kepada beberapa rombongan Soekarno. Setelah itu dia berpamitan dan meninggalkan Soekarno di pesta. Itulah perjumpaan mereka pertama sekaligus yang terakhir.

Soekarno gila wanita?
Pertemuan Marilyn dengan Soekarno meninggalkan beberapa kisah menarik yang berkembang melampaui batas-batas fakta sebenarnya. Misalnya, dalam buku Goddess The Secret Life of Marilyn Monroe, yang ditulis Anthony Summers. Dalam buku itu ada bagian yang menceritakan tentang affair kedua lagenda itu, yang menurut saya sangat sulit dikonfirmasikan apalagi untuk dibenarkan.

Misalnya saja pengakuan sutradara Joseph Logan dalam buku itu. “Saya pikir mereka berdua melakukan pertemuan lanjutan setelah pesta itu”, kenang Logan yang memperkenalkan Marilyn kepada Soekarno.

Menurut saya, pengakuan Logan itu sulit dilacak dan diterima. Setelah bertemu Marilyn, Soekarno dijaga ketat oleh jadual kunjungan yang melelahkan dan padat beruntun. Setelah dari Hollywood, Soekarno terbang ke Kanada dan beberapa negara Eropa.

Ditambah lagi menurut buku Summers itu, Marilyn pernah sangat mengkhawatirkan nasib Soekarno yang kerap diganggu dan diancam kekuasaannya oleh musuh-musuh politiknya. Dan lebih lucu lagi, Marilyn melampiaskan keinginannya untuk “menyelamatkan” Soekarno dengan menawarkan sebuah rumah di AS!

Kisah-kisah yang berkembang tentang Soekarno dengan wanita-wanita cantik, lebih sebatas sebagai urban legend daripada fakta. Kesukaannya pada wanita cantik memang bukan hal baru yang sulit ditolak. Tetapi ekspresi Soekarno menuangkan kegemarannya pada wanita sampai diluar batas, sudah sampai memasuki wilayah mitos. Saya menyebutnya sebagai unclassifiable veracity (kebenaran yang sulit dibuktikan). Sosok Soekarno selalu dilihat gerak-gerik rakyatnya dengan kacamata mikroskop. Apalagi sikapnya yang serba terbuka. Sehingga bila ada kisah-kisah asmara “diluar garis susila” tidak bisa diterima dalam dalam lingkaran kebenaran.

Soekarno Vs Kennedy
Hubungan asmara Marilyn dengan beberapa pria memang menjadi komoditi berita yang tak akan habis. Hanya dua presiden yang penya ruang dalam hidup Marilyn: Presiden Soekarno dan Presiden AS John Kennedy. Kebetulan sekali ketiga orang itu berzodiak Gemini (Soekarno lahir 6 Juni 1901, Kennedy 25 Mei 1917 dan Marilyn 1 Juni 1926).

Mereka bertiga saling mengenal baik satu sama lain. Kennedy adalah sahabat Soekarno dan memiliki banyak kesamaan, terutama dalam menilai wanita. Gedung Wisma Negara disamping Istana Merdeka, adalah gedung yang dibangun khusus oleh Soekarno untuk mempersiapkan kunjungan Presiden Kennedy ke Indonesia tahun 1964. Namun tak sempat dipakai tamunya, karena Kennedy keburu tewas ditembak di Dallas akhir 1963.

Kualitas hubungan Marilyn dengan kedua presiden, memang lebih banyak disorot hubungannya dengan Jack (panggilan akrab John Kennedy). Apalagi setelah terbit buku Seymour M. Hersh tahun 1997 lalu. Buku yang berjudul The Dark Side of Camelot itu menceritakan dengan gamblang percintaan extramarital Kennedy dengan sejumlah wanita, termasuk dengan Marilyn yang pernah menyayikan lagu khusus Happy Birthday Mr. President ketika Kennedy merayakan ulang tahunnya di sebuah stadion di New York.

Tapi sebenarnya, Soekarno-lah lebih dulu mengenal dengan Marilyn dibanding Kennedy. Ketika Soekarno bertemu Marilyn di Hollywood tanggal 30 Mei 1956 malam itu, Kennedy masih seorang senator dari negara bagian Massachusetts. Ketika itu dia masih menjalani perawatan medis akibat cedera punggung yang dideritanya, waktu menolong sahabatnya secara heroik saat Perang Dunia Kedua di laut Pasifik.

Di Indonesia sendiri, kisah asmara Soekarno dengan Marilyn tidak banyak diceritakan dan memang tidak ada yang untuk diceritakan. Belum ada satu bukupun, baik saksi hidup atau sebuah ulasan yang menceritakan hubungan Soekarno dengan wanita sekaliber selebritis dunia, termasuk Marilyn Monroe. Bahkan Soeakrno sendiri tidak bercerita sama sekali dalam buku otobiografi tentang hubungan ini.

Hanya dalam buku Cyndi Adams itu, dikisahkan kesedihan Soekarno mendengar tewasnya Kennedy, sahabatnya. Namun sampai saat ini tidak pernah terdengar dan terbetik komentar Soekarno saat mengetahui kematian Marilyn akibat over dosis obat penenang.

Meski Soekarno, Kennedy dan Marylin menjadi legenda dan dikenang banyak orang, ketiga tokoh itu mengakhiri hidup mereka dengan cara yang sangat sedih. Mengenaskan!



Salam Revolusi





sumber(koiman)


Follow Jiwaku On

Masukkan Email Anda dan Dapatkan Update Berita Jiwaku :

Baca Artikel Lainnya