Benarkah Kanker Lebih Bisa Sembuh Jika Tak Dikemoterapi?

Posted by agus ariefandy on Sunday, 29 January 2012




Jiwaku -- Jakarta, Sebagian orang berpendapat efek samping kemoterapi lebih besar dibandingkan manfaat yang didapatkan. Bahkan peluang untuk kanker sembuh dengan sendirinya diyakini justru lebih tinggi jika dibiarkan tanpa kemoterapi. Benarkah demikian?

Berbagai tulisan tentang hal itu banyak beredar di situs-situs maupun forum diskusi di internet. Sebagian besar mengatakan bahwa tingkat kesembuhan kanker yang diobati dengan kemoterapi hanya sekitar 3 persen, sedangkan sisanya 97 persen berakhir dengan kegagalan.

Angka ini kemudian dibandingkan dengan data lain yang menunjukkan bahwa peluang kanker untuk sembuh sendiri tanpa diobati. Menurut sebuah data dari Norwegia, 22 persen kanker payudara mengalami spontaneus remission atau sembuh dengan sendirinya.

Perbandingan ini memunculkan dugaan bahwa keberhasilan kemoterapi tidak hanya rendah, tetapi sekaligus juga menurunkan peluang bagi tubuh untuk memerangi sel kanker itu sendiri. Faktanya, obat kemoterapi memang menurunkan sistem kekebalan tubuh.

Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, Dr Drajat Ryanto Suardi, SpB(K)Onk membenarkan bahwa efek samping obat kemoterapi bisa menurunkan daya tahan tubuh. Namun jika dikatakan bahwa peluang keberhasilan kemoterapi hanya 3 persen, dengan tegas ia membantah.

"Bisa saya katakan, data itu tidak benar. Ada banyak faktor yang mempengaruhi efektivitas dan tingkat kesembuhan kemoterapi dan sejauh ini tidak ada data ilmiah yang mengatakan demikian," tegas Dr Drajat saat dihubungi detikHealth, Selasa (24/1/2012).

Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan kemoterapi menurut Dr Drajat adalah jenis sel kanker dan sensitivitasnya terhadap obat. Limfoma malignant (kanker getah bening) dan kanker payudara misalnya, jika diambil angka secara kasar kasar rata-rata tingkat keberhasilan kemoterapinya bisa mencapai 50 persen.

Faktor berikutnya adalah grade atau tingkat keganasan kanker (sifat kanker) yang terdiri dari 3 grade, makin rendah grade kankernya maka tingkat keberhasilan kemoterapi makin tinggi. Kedua faktor tersebut, grade dan jenis kanker ditentukan berdasarkan hasil biopsi atau pemeriksaan sampel jaringan.

Selain itu, stage atau stadium kanker yang terdiri dari 4 stadium juga mempengaruhi keberhasilan kemoterapi. Sebagai contoh untuk kanker payudara, stadium 1 punya tingkat keberhasilan antara 80-85 persen sehingga pemeriksaan dini akan sangat menentukan peluang kesembuhan.

Tak kalah pentingnya, kebulatan tekad pasien dalam menjalani kemoterapi juga sangat menentukan tingkat keberhasilan. Menurut Dr Drajat, jika pasien punya tekad kuat untuk sembuh maka tanpa disadari tubuhnya akan membantu melakukan fight atau perlawanan terhadap sel kanker.

Terkait pendapat bahwa peluang kesembuhan kanker bisa lebih tinggi jika dibiarkan tidak diobati, Dr Drajat kurang sependapat. Bahkan ketika pasien memutuskan untuk menjalani pengobatan alternatif, pengobatan secara medis baik berupa kemoterapi, operasi maupun radioterapi tetap tidak boleh ditinggalkan.

"Pada dasarnya tidak ada larangan untuk melakukan pengobatan alternatif. Kapan saja mau dilakukan boleh-boleh saja, yang penting medisnya jangan ditinggalkan karena kalau hanya mengandalkan alternatif itu kan belum ada bukti ilmiahnya," pesan Dr Drajat.
sumber(detikHealth)


Follow Jiwaku On

Masukkan Email Anda dan Dapatkan Update Berita Jiwaku :

Baca Artikel Lainnya