Tips Sukses di Bulan Ramadhan -- Dalam dua
buah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan
kondisi dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam
berpuasa dan melewati bulan Ramadhan:
Golongan pertama digambarkan oleh
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barang
siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala,
maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Golongan kedua digambarkan oleh
beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش
“Betapa
banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah), al-Hakim dan dia menshahihkannya.
Al-Albani berkata: “Hasan Shahih.”
Akan termasuk golongan manakah kita?
Hal itu tergantung dengan usaha kita dan taufik dari Allah ta’ala.
Bulan Ramadhan merupakan momentum
agung dari ladang-ladang yang sarat dengan keistimewaan, satu masa yang menjadi
media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia.
Agar Ramadhan Kita Bermakna Indah, simak
nasihat yang disampaikan oleh Syaikh kami Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili.
Plus penjelasan-penjelasan lain dari penyusun:
Kiat Pertama: Bertawakal kepada Allah Ta’ala
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Dalam
menyambut kedatangan musim-musim ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan
bimbingan, bantuan dan taufik dari Allah ta’ala. Cara meraih itu semua adalah
dengan bertawakal kepada-Nya.”
Ibnu Taimiyah menambahkan, bahwa
seseorang yang ingin melakukan suatu amalan, dia berkepentingan dengan beberapa
hal yang bersangkutan dengan sebelum beramal, ketika beramal dan setelah
beramal:
a. Adapun perkara yang dibutuhkan
sebelum beramal adalah menunjukkan sikap tawakal kepada Allah dan semata-mata
berharap kepada-Nya agar menolong dan meluruskan amalannya. Ibnul Qayyim
memaparkan bahwa para ulama telah bersepakat bahwa salah satu indikasi taufik
Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan-Nya kepada hamba-Nya. Sebaliknya,
salah satu ciri kenistaan seorang hamba adalah kebergantungannya kepada
kemampuan diri sendiri.
Jika kita bertawakal kepada Allah dan
memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi taufik-Nya pada kita.
b. Di saat mengerjakan amalan ibadah,
poin yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah: ikhlas dan mengikuti
petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dua hal inilah yang
merupakan dua syarat diterimanya suatu amalan di sisi Allah. Banyak ayat dan
hadits yang menegaskan hal ini. Di antaranya: Firman Allah ta’ala,
وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين
“Padahal
mereka tidaklah diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan
mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (QS.
Al-Bayyinah: 5)
Dan sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam:
من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد
“Barang
siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka
amalan itu akan tertolak.” (HR.
Muslim)
c. Usai beramal, seorang hamba
membutuhkan untuk memperbanyak istigfar atas kurang sempurnanya ia dalam
beramal, dan juga butuh untuk memperbanyak hamdalah (pujian) kepada Allah Yang
telah memberinya taufik sehingga bisa beramal. Apabila seorang hamba bisa
mengombinasikan antara hamdalah dan istigfar, maka dengan izin Allah ta’ala,
amalan tersebut akan diterima oleh-Nya.
Kiat Kedua: Bertaubat Sebelum Ramadhan Tiba
Banyak sekali dalil yang memerintahkan
seorang hamba untuk bertaubat, di antaranya: firman Allah ta’ala:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
“Hai
orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang
semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai.” (QS.
At Tahrim: 8)
Kita diperintahkan untuk senantiasa
bertaubat, karena tidak ada seorang pun di antara kita yang terbebas dari
dosa-dosa. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
كل بنى آدم خطاء وخير الخطائين التوابون
“Setiap
keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa
adalah yang bertaubat.” (HR.
Tirmidzi dan dihasankan isnadnya oleh Syaikh Salim Al Hilal)
Dosa hanya akan mengasingkan seorang
hamba dari taufik Allah, sehingga dia tidak kuasa untuk beramal saleh, ini
semua hanya merupakan sebagian kecil dari segudang dampak buruk dosa dan
maksiat. Apabila ternyata hamba mau bertaubat kepada Allah ta’ala, maka prahara
itu akan sirna dan Allah akan menganugerahi taufik kepadanya kembali.
Taubat nasuha atau taubat yang
sebenar-benarnya hakikatnya adalah: bertaubat kepada Allah dari seluruh jenis
dosa. Imam Nawawi menjabarkan: Taubat yang sempurna adalah taubat yang memenuhi
empat syarat:
1. Meninggalkan maksiat.
2. Menyesali kemaksiatan yang telah ia
perbuat.
3. Bertekad bulat untuk tidak
mengulangi maksiat itu selama-lamanya.
4. Seandainya maksiat itu berkaitan
dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau
memohon maaf darinya (Lihat: Riyaadhush Shaalihiin, karya Imam
an-Nawawi hal: 37-38)
Kiat Ketiga: Membentengi Puasa Kita dari Faktor-Faktor yang Mengurangi Keutuhan Pahalanya
Sisi lain yang harus mendapatkan porsi
perhatian spesial, bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari
faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan
berdusta. Dua penyakit ini berkategori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang
yang selamat dari ancamannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengingatkan:
من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه
“Barang
siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka niscaya
Allah tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman (tidak
membutuhkan puasanya).” (HR.
Bukhari)
Jabir bin Abdullah menyampaikan
petuahnya:
إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمحارم ودع أذى الجار, وليكن عليك وقار وسكينة يوم صومك, ولا تجعل يوم صومك ويوم فطرك سواء
“Seandainya
kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut
berpuasa dari dusta dan hal-hal haram dan janganlah kamu menyakiti tetangga.
Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari
puasamu dan hari tidak berpuasamu sama.” (Lathaa’if al-Ma’arif, karya Ibnu Rajab al-Hambali,
hal: 292)
Orang yang menahan lisannya dari
ghibah dan matanya dari memandang hal-hal yang haram ketika berpuasa Ramadhan
tanpa mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah, lebih baik daripada orang yang
berpuasa plus menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun dia tidak berhenti dari
dua budaya buruk tadi! Inilah realita mayoritas masyarakat; ketaatan yang
bercampur dengan kemaksiatan.
Oleh sebab itu para ulama merasa heran
terhadap sosok yang menahan diri (berpuasa) dari hal-hal yang mubah, tapi masih
tetap gemar terhadap dosa. Ibnu Rajab al-Hambali bertutur, “Kewajiban
orang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan hal-hal yang
terlarang. Mengekang diri dari makanan, minuman dan jima’ (hubungan suami
istri), ini sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal mubah yang
diperbolehkan. Sementara itu ada hal-hal terlarang yang tidak boleh kita
langgar baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Di bulan suci ini
tentunya larangan tersebut menjadi lebih tegas. Maka sungguh sangat
mengherankan kondisi orang yang berpuasa (menahan diri) dari hal-hal yang pada
dasarnya diperbolehkan seperti makan dan minum, kemudian dia tidak berpuasa (menahan
diri) dan tidak berpaling dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan di sepanjang
zaman seperti ghibah, mengadu domba, mencaci, mencela, mengumpat dan lain-lain.
Semua ini merontokkan ganjaran puasa.”
Kiat Keempat: Memprioritaskan Amalan yang Wajib
Hendaknya orang yang berpuasa itu
memprioritaskan amalan yang wajib. Karena amalan yang paling dicintai oleh
Allah ta’ala adalah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam suatu hadits qudsi, bahwa Allah
ta’ala berfirman:
وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه
“Dan
tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih
Aku cintai daripada amalan-amalan yang Ku-wajibkan.” (HR. Bukhari)
Di antara aktivitas yang paling wajib dilaksanakan pada bulan
Ramadhan adalah: mendirikan shalat berjamaah lima waktu di masjid (bagi kaum
pria), berusaha sekuat tenaga untuk tidak ketinggalan takbiratul ihram. Telah
diuraikan dalam sebuah hadits:
من صلى لله أربعين يوما في جماعة يدرك التكبيرة الأولى كتب له براءتان: براءة من النار وبراءة من النفاق
“Barang siapa yang shalat karena Allah selama empat puluh hari
dengan berjama’ah dan selalu mendapatkan takbiratul ihram imam, akan dituliskan
baginya dua ‘jaminan surat kebebasan’ bebas dari api neraka dan dari nifaq.” (HR.
Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)
Seandainya kita termasuk orang-orang yang amalan sunnahnya tidak
banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita berusaha untuk memelihara shalat
lima waktu dengan baik, dikerjakan secara berjamaah di masjid, serta berusaha
sesegera mungkin berangkat ke masjid sebelum tiba waktunya. Sesungguhnya
menjaga amalan-amalan yang wajib di bulan Ramadhan adalah suatu bentuk ibadah
dan taqarrub yang paling agung kepada Allah.
Kiat Kelima: Berusaha untuk Mendapatkan Lailatul Qadar
Setiap muslim di bulan berkah ini berusaha untuk bisa meraih
lailatul qadar. Dialah malam diturunkannya Al-Qur’an (QS. Al-Qadar: 1, dan QS.
Ad-Dukhan: 3), dialah malam turunnya para malaikat dengan membawa rahmat (QS.
Al-Qadar: 4), dialah malam yang berbarakah (QS. Ad-Dukhan: 3), dialah malam
yang lebih utama daripada ibadah seribu bulan! (83 tahun plus 4 bulan) (QS.
Al-Qadar: 3). Barang siapa yang beribadah pada malam ini dengan penuh keimanan
dan mengharapkan pahala dari Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu akan
diampuni oleh-Nya (HR. Bukhari dan Muslim).
Mendengar segunung keutamaan yang dimiliki malam mulia ini,
seyogyanya seorang muslim memanfaatkan kesempatan emas ini untuk meraihnya.
Di malam ke berapakah lailatul qadar akan jatuh?
Malam lailatul qadar akan jatuh pada malam-malam sepuluh akhir
bulan Ramadhan. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:
تحروا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan
Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tepatnya pada malam-malam yang ganjil di antara malam-malam yang
sepuluh tersebut, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان
“Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan.”(HR. Bukhari)
Tapi di malam manakah di antara malam-malam yang ganjil? Apakah di
malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 atau malam 29? Pernah di suatu tahun
pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lailatul qadar
jatuh pada malam 21, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri
bahwa di pagi hari tanggal 21 Ramadhan tahun itu Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallambersabda:
إني أريت ليلة القدر
“Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar (malam tadi).” (HR.Bukhari
dan Muslim)
Pernah pula di suatu tahun lailatul qadar jatuh pada malam 27.
Ubai bin Ka’ab berkata:
والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين
“Demi Allah aku mengetahuinya (lailatul qadar), perkiraan saya
yang paling kuat dia jatuh pada malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam memerintahkan kami untuk bangun malam di dalamnya, yaitu malam dua puluh
tujuh.” (HR. Muslim)
Pada tahun yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam memerintahkan para sahabatnya untuk mencari lailatul qadar pada
tujuh malam terakhir dari bulan Ramadhan:
فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر
“Barang siapa yang ingin mencarinya (lailatul qadar) hendaklah ia
mencarinya pada tujuh malam terakhir (dari bulan Ramadhan).” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Cara memadukan antara hadits-hadits tersebut
di atas: dengan mengatakan bahwa lailatul qadar setiap tahunnya selalu
berpindah-pindah dari satu malam yang ganjil ke malam ganjil lainnya, akan
tetapi tidak keluar dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.
Di antara hikmah dirahasiakannya waktu lailatul qadar adalah:
Agar amal ibadah kita lebih banyak. Sebab dengan dirahasiakannya
kapan waktu lailatul qadar, kita akan terus memperbanyak shalat, dzikir,
doa dan membaca Al-Qur’an di sepanjang malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan
terutama malam yang ganjil.
Sebagai ujian dari Allah ta’ala, untuk mengetahui siapa di antara
para hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul qadar dan siapa
yang bermalas-malasan serta meremehkannya (Majaalisu Syahri Ramadhaan,
karya Syaikh al-’Utsaimin hal: 163)
Maka seharusnya kita berusaha maksimal pada sepuluh hari itu;
menyibukkan diri dengan beramal dan beribadah di seluruh malam-malam itu agar
kita bisa menggapai pahala yang agung itu. Mungkin saja ada orang yang tidak
berusaha mencari lailatul qadar melainkan pada satu malam tertentu saja dalam
setiap Ramadhan dengan asumsi bahwa lailatul qadar jatuh pada tanggal ini atau
itu, walaupun dia berpuasa Ramadhan selama 40 tahun, barangkali dia tidak akan
pernah sama sekali mendapatkan momen emas itu. Selanjutnya penyesalan saja yang
ada…
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah
memberikan teladan:
(كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله) متفق عليه
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika memasuki sepuluh
(terakhir Ramadhan) beliau mengencangkan ‘ikat pinggangnya’, menghidupkan
malamnya dan membangunkan keluarganya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Kiat Keenam: Jadikan Ramadhan Sebagai Madrasah untuk Melatih Diri Beramal Saleh, yang Terus Dibudayakan Setelah Berlalunya Bulan Suci Ini
Bulan Ramadhan ibarat madrasah keimanan, di dalamnya kita belajar
mendidik diri untuk rajin beribadah, dengan harapan setelah kita tamat dari
madrasah itu, kebiasaan rajin beribadah akan terus membekas dalam diri kita
hingga kita menghadap kepada Yang Maha Kuasa.
Allah ta’ala memerintahkan:
واعبد ربك حتى يأتيك اليقين
“Dan sembahlah Rabbmu sampai ajal datang kepadamu.” (QS.
Al-Hijr: 99)
Tatkala al-Hasan al-Bashri membaca ayat ini beliau menjelaskan,
إن الله لم يجعل لعمل المؤمن أجلا دون الموت
“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas akhir bagi amal seorang
Mukmin melainkan ajalnya.”
Maka jangan sampai amal ibadah kita turut berakhir dengan
berakhirnya bulan Ramadhan. Kebiasaan kita untuk berpuasa, shalat lima waktu
berjamaah di masjid, shalat malam, memperbanyak membaca Al-Qur’an, doa dan
zikir, rajin menghadiri majelis taklim dan gemar bersedekah di bulan Ramadhan,
mari terus kita budayakan di luar Ramadhan.
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس, وكان أجود ما يكون في رمضان
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan orang yang
paling dermawan, dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Ulama salaf pernah ditanya tentang sebagian orang yang rajin
beribadah di bulan Ramadhan, namun jika bulan suci itu berlalu mereka pun
meninggalkan ibadah-ibadah tersebut? Dia pun menjawab:
بئس القوم لا يعرفون الله إلا في رمضان
“Alangkah buruknya tingkah mereka, mereka tidak mengenal Allah
melainkan hanya di bulan Ramadhan!”
Merupakan ciri utama diterimanya puasa kita di bulan Ramadhan dan tanda
terbesar akan keberhasilan kita meraih lailatul qadar adalah:
berubahnya diri kita menjadi lebih baik daripada kondisi kita sebelum Ramadhan.
Wallahu ta’ala a’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa
‘ala alihi wa shabihi ajma’in.


